Pertemuan yang tidak pernah disangka sebelumnya. Aku yang
awalnya hanya memandangmu dengan tatapan biasa, kini berubah menjadi
sesuatu yang tidak bisa lagi dikatakan biasa. Entah memang ini takdir
kita atau apa, aku pun tak pernah tau. Yang pasti, Tuhan punya suatu
rahasia dibalik ini semua.
Aku Percaya Kamu.. Melebihi Apa Yang Orang Katakan Kepadaku..
Ari,
begitu biasanya mereka memanggilmu, tak terkecuali aku. Aku yang
sekarang menjadi kekasihmu pun masih memanggilmu dengan sebutan itu,
tidak ada perbedaan. Canggung memang, tapi begitulah adanya. Kau pun
juga sering memanggilku hanya dengan sebutan Lala, bukan sayang atau
yang sejenisnya yang biasa mereka katakan kepada kekasihnya.
Aku
tak pernah memerdulikan hal itu, bagiku itu tidak menjadi suatu
persoalan yang rumit. Jika memang itu yang kamu inginkan, dan kamu
nyaman dengan keadaan seperti itu. Aku pun akan mengikutinya. Yang aku
tahu, dari sekian banyak orang yang mengatakan kepada ku. Aku ini orang
yang beruntung, karena bisa mendapatkan kamu. Sebab diluar sana, sangat
banyak mereka yang menginginkan mu dan berharap menjadi kekasihmu.
Mereka
selalu bilang, kalau kamu itu sosok yang hebat dan banyak orang ingin
seprtimu. Tapi bagiku, kamu lebih dari itu. Kamu selalu bisa membuatku
tersenyum selama ini, membuat ku tertawa bahagia bersama mu, dengan
sikapmu yang selalu bisa memanjakanku. Aku memang orang yang sangat
beruntung didunia ini karena bisa memiliki orang sepertimu.
Yang Kutahu Kau Selalu Sejukkan Hatiku.. Yang Kutahu Kau Selalu Ada Di Saatku.. Membutuhkanmu Kau Selalu Ada.. Disaatku Rapuh..
Hari
ini ku dengar dari teman-temannya kalau kelasnya akan mengadakan study
tour ke sebuah perusahaan kopi yang ada diluar kota. Tapi, dia tidak
pernah mengatakan hal itu kepadaku. Aku merasa cemas dan takut kalau dia
berbohong kepadaku. Aku pun langsung memutuskan pergi ke kelasnya
setibanya aku disekolah.
“Ari..” panggilku didepan pintu ketika melihatnya berada didalam kelas.
Dengan
senyuman hangatnya, dia berjalan kearahku tanpa mengatakan sepatah kata
pun. Sesampainya ia dihadapanku, Ari langsung menggenggam tanganku
dengan mesra dan mengajakku setengah berlari ketaman didekat kelasnya.
“La, maafin aku. Aku tau apa alasan kamu ke kelas ku pagi ini..” ucap Ari memecah kebisuan.
“Ari.. kamu..” perkataan ku terputus seketika, saat jari telunjuk Ari menempel dibibirku.
“Dengerin
penjelasanku, aku ngga bilang akan ikut study tour hari ini karena aku
takut kamu terlalu mikirin aku. Aku tau hari ini kamu ada ujian dikelas,
aku ngga mau hal ini membuat kamu ngga serius belajar dan terus-terusan
mikirin aku. Lala ku sayang, aku akan baik-baik saja. aku janji ngga
akan pernah ngecewain kamu, aku janji akan selalu menjaga perasaan aku
saat aku jauh dari kamu.”
Seketika hati ini terasa
begitu tenang, aku pun tersenyum dengan nyamannya. Mendengar perkataan
Ari barusaan, membuatku seakan menjadi orang yang benar-benar beruntung
ada didunia ini.
Aku Percaya Kamu.. Hidup Ini Takkan Berarti Tanpa Kau Disisiku..
Hari-hari
setelah itu ku lalui sendiri, selama satu bulan penuh Ari dan
teman-teman sekelasnya pergi keluar kota. Terkadang, aku memang sering
galau memikirkan apa yang kamu lakukan disana, tapi semua itu kemudian
tertutupi oleh kata-kata yang kamu ucapkan ketika kamu akan berangkat.
Kata-kata yang selalu bisa membuatku tanang dan nyaman bersamamu.
Dengan
sabarnya, Ari yang berada jauh diluar kota selalu menghubungiku setiap
pagi untuk membangunkan tidurku. Ari jua lah yang selalu memberikan ku
semangat saat aku sedang ada masalah. Ari sungguh menjadi orang yang
begitu istemewa untukku, Ari selalu ada untukku kapanpun aku
membutuhkannya.
Saat ini, aku berjanji kepada
diriku sendiri untuk tidak menyia-nyiakannya, aku akan berusaha selalu
ada untuknya dan menyayanginya hingga aku tak mampu lagi untuk berbuat
apa-apa, hingga aku tidak bisa membuka mata dan memandangya lagi di
dunia ini.
Aku Percaya Kamu.. Kau Takkan Pernah Berhenti Tuk Selalu Mencintaiku..
Sepulangnya
Ari dari luar kota, aku jatuh sakit. Bukan sakit yang teramat parah,
tapi sialnya aku harus masuk rumah sakit. Aku berusaha untuk tidak
mengatakan kepada Ari tentang hal ini, tapi entah dia tahu darimana.
Sore hari setelah kepulangannya diluar kota, dia datang menjengukku. Aku
sungguh sangat terkejut melihatnya datang, aku tidak menyangka kalau
dia akan tahu aku dirawat dirumah sakit.
Ari
begitu sempurna dimataku, dengan belaian lembutnya, aku bisa merasakan
kehangatan jemari Ari membelai poni ku yang menutupi mata. Aku merasa
hangat, merasa semuanya baik-baik saja. seakan aku sedang tidak berada
disebuah kamar Rumah Sakit. Ari selalu bisa membuatku tersenyum, Ari
selalu mampu untuk mengubah air mataku menjadi sebuah senyuman.
Hari
itu aku benar-benar merasa berharga, ditemani oleh orang yang sangat
aku cintai saat aku sedang terbaring lemah tak berdaya. Bisa memandang
wajahnya yang satu bulan ini selalu menghubungiku tanpa lelah, tanpa
merasa bosan sedikitpun. Aku percaya, Ari selalu bisa membuatku bahagia
seperti ini.
Aku Percaya Kamu.. Tak Perduli Apa Yang Orang Katakan Tentang Kamu..
Satu
bulan kemudian. Hubunganku dengan Ari semakin baik dan bahkan selalu
bisa membuat orang lain iri akan kehangantan hubungan kami. Tapi, bunga
tidak selamanya mekar dan air tidak selamanya tenang. Hubungan kami pun
mulai diganggu oleh orang yang tidak suka dengan kehangatan ini. Della,
mantan Ari yang dulu pernah mengecewakannya kini kembali datang disaat
aku dan Ari sedang berbahagia.
Memang saat yang
sangat tepat, saat dimana aku sedang dimabuk oleh cinta dan rayuan Ari,
saat itu pula Della semakin menggilai Ari. Aku tahu tapi aku diam, aku
selalu membaca semua pesan yang dikirimkan Della untuk Ari, aku selalu
melihat Della bersikap cari perhatian saat berada didekat Ari.
Sakit,
pedih, perih. Tidak ada satu orang wanita pun yang sanggup melihat
laki-laki yang sangat ia cintai didekati oleh wanita lain yang juga
mencintai laki-laki itu. Seakan bukan seorang wanita, Della tidak
menghiraukan kalau Ari sudah berpacaran dengan ku, dia tidak pernah
memikirkan bagaimana sakitnya seandainya dia yang berada diposisiku.
Aku
menangis, tertatih dan tak kuasa menahan sesak yang ada didalam dada.
Aku lelah mendengar semua cerita orang yang mengatakan kalau sekarang
kamu kembali dekat dengan Della. Aku bingung harus percaya dengan siapa,
disaat semua orang berpihak kepada Della, kamu selalu bisa memberikan
ku kepastian bahwa yang kamu cintai dan sayangi itu hanya aku. Bahwa
yang selalu kamu pikirkan itu hanya aku.
Aku pun
selalu meyakinkan hatiku sendiri bahwa kamu itu benar, aku berusaha
bersabar dengan semua omongan orang lain. Aku selalu mengingan semua
kenangan manis kita dulu, agae aku bisa selalu mengingatmu, selalu
menyayangi dan selalu ada untukmu.
Mungkin
terlalu dalam sakit yang kini ku rasa, ku menyesal tlah mencintaimu..
semua ini bukanlah yang ku harapkan.. kau berikan cinta sesaat untukku..
ternyata ku salah menilai dirimu.. MEMANG KAU TAK PANTAS MENJADI
MILIKKU..
Aku yang selalu bisa
bertahan dan berusaha tegar saat mengetahui apa yang sering dilakukan
Della pada Ari ternyata tidak membuat akhir cerita cinta ini bahagia.
Ari memang sangat menyayangiku, aku tahu itu. Tapi, dia tidak seutuhnya
bisa melupakan Della, dia masih mencintai Della dan sangat menyayangi
Della seperti ia menyayangi ku. Aku menyesal mengapa dengan semudah itu
bisa mempercayai perkataan Ari yang mengatakan kalau hanya aku yang
selalu ia sayangi. Aku menyesal telah mengenal Ari, aku menyesal telah
mendapatkan kebahagiaan semu selama ini darinya.
Disuatu
malam yang dingin, hujan turun dengan derasnya. Aku termenung disudut
kamar sembari memegang handphone yang sejak tadi mengeluarkan
bunyi-bunyi tanda adanya panggilan masuk. Aku tak kuasa mendengar suara
Ari lagi, aku tidak akan pernah sanggup bertemu dengannya lagi. setelah
apa yang ku dengar barusan. Setelah Ari berkata jujur kalau dia masih
sangat menyayangi Della dan tidak bisa mencintaiku lagi seperti dulu
karena kini perasaannya sudha terbagi kepada Della. Aku hancur, kecewa,
semuanya telah hilang. Takkan pernah adalagi orang selalu dengan sabar
membangunkan tidurku, menyayangiku dan membelai rambutku.
Mengingat
masa-masa itu hanya membuatku semakin hancur, membuatku semakin terluka
dengan sikap Ari yang berubah 180 derajat kepadaku. Aku berjanji pada
diriku sendiri, mulai saat ini untuk tidak akan percaya spenuhnya lagi
kepada seseorang. Aku benci Ari, benci semua hal tentang Ari. Aku
mungkin tidak akan pernah kembali kemasa lalu lagi, melupakan semuanya
dan mengganti apa yang sering kulakukan dulu saat aku bersama Ari. Bukan
hal buruk, aku akan melangkah dan tidak akan kembali lagi. terimakasih
atas rasa sakit ini. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar